Satkar Ulama

"...I'm the mute who speaks. I'm the one who is honored and praised, and who is despised scornfully. I am peace, and war has come because of me..."

Home

Demokrasi, HAM, Negara Berkembang, Serta Teori-Teori di Dalamnya.

Posted on December 17, 2010 at 2:20 AM

Apa yang Anda Ketahui Tentang Negara Berkembang?

 

Negara berkembang adalah suatu istilah yang diberikan kepada negara-negara yang memiliki tingkat pendapatan ekonomi di bawah rata-rata, dan dilihat dari kesejahteraan hidup rakyatnya. Pada awalnya, negara-negara ini disebut sebagai negara ‘terbelakang’, karena sangat lemah dalam hal teknologi, walaupun pada dasarnya menyimpan sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun, karena istilah ‘negara terbelakang’ itu terdengar tidak sopan dan dianggap sebagai suatu penghinaan, maka diberikanlah istilah baru, yaitu ‘Negara Berkembang’. Setiap dari kita pasti setuju apabila negara berkembang dikategorikan sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang luas, namun terbatas dalam hal sumber daya manusia dan infrastruktur untuk mengolahnya.

Kofi Anan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, memberikan suatu definisi pribadi yang cukup unik mengenai apa itu negara berkembang, bahwa negara berkembang adalah suatu negara dimana semua penduduknya bisa dengan bebas menikmati alam dan lingkungan yang sehat lagi aman (dari penyakit). Definisi yang dikeluarkan oleh Kofi Anan terdengar sangat absurd. Terlepas dari kepemilikan sumber daya alam yang luar biasa banyaknya, negara berkembang tidak selamanya memiliki lingkungan yang bersih dan sehat. Banyak contoh negara berkembang di dunia yang lingkungannya sangat jauh dari kesan bersih dan nyaman, seperti Uganda, Rwanda, atau Afrika Selatan yang notabene kaya akan sumber daya alam. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari proses industrialisasi yang muncul akibat modernisasi.

Untuk mendefinisikan negara berkembang, harus terlebih dahulu dilihat kondisi objektif dari negara-negaradi dunia, dengan mengacu pada beberapa karakteristik atau ciri-ciri utama negara berkembang, antara lain: Pertumbuhan penduduk yang tinggi, tingkat pengangguran yang tinggi dengan lapangan kerja sangat sempit, tingkat produktivitas yang rendah dilihat dari GNP (GrossNational Product), kualitas hidup yang rendah dilihat dari Human Development Index, ketergantungan pada sektor primer (pertanian), pasar dan informasi yang tidak sempurna yang dapat menyebabkan monopoli pasar, tingkat ketergantungan pada angkatan kerja yang tinggi, dan dependensi yang tinggi pada perekonomian eksternal yang rentan seperti eksport.

Negara berkembang memang memiliki sumber daya alam dan bahan baku produksi, namun keterbatasan dalam hal teknologi membuat negara-negara itu menjadi susah dalam mengolah bahan-bahan mentah tersebut. Hal ini lah yang menjadi penyebab merangkaknya pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang. Bisa kita lihat contohnya seperti negara-negara Amerika Selatan, Afrika, dan Asia, yang masih belum dapat mengolah sendiri bahan mentahnya.

Golthorpe dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1975 yang berjudul The Sociology of the Third World, mengkategorikan negara-negara dalam dua kelompok yaitu negara kaya dan negara miskin, dan indikator yang ia gunakan dalam mengukurnya adalah GNP (Gross National Product)-nya, dimana GNP berfungsi sebagai faktor biaya juga perimbangan pendapatan yang diterima dari luar negeri. 20 negara industri terkaya semuanya memiliki pendapatan rata-rata 1400 dollar atau lebih. Kelompok negara yang dipandang penting berikutnya memiliki tingkat pendapatan di bawah750 dollar. Hanya ada empat negara yang benar-benar berada pada pertengahan, yaitu Irlandia, Yunani, Spanyol, dan Venezuela, dengan pendapatan rata-rata antara 750 dan 1050 dollar. Yang berpendapatan di bawah 750 dollar disebut negara miskin. Tetapi negara-negara dengan pendapatan antara 500 dan 750 dollar adalah negara-negara “miskin yang baik”, meliputi Portugal, Malta, Cyprus, Afrika Selatan, Gabon, Singapura, dan negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dan kebanyakan negara-negara baru di Asia dan Afrika termasuk di antara negara-negara yang paling miskin.

Artinya faktor utama dalam kategorisasi negara maju dan negara berkembang adalah faktor ekonomi. Walaupun masih banyak faktor-faktor lainnya seperti faktor politik dan kependudukan, namun ekonomi tetap menjadi indikator utama dalam menjelaskan mengenai negara berkembang.


xoxo


Analisa 3 Teori Tentang Negara Berkembang. Munculkan Teori Anda!

 

Ada banyak teori yang berhubungan dengan Negara Berkembang, 3 di antaranya adalah teori modernisasi (modernization theory), teori dependensi (dependency theory), dan teori sistem dunia (world system theory).

Eisenstadt dalam bukunya yang berjudul Modernization: Protest and Change berpendapat bahwa modernisasi merupakan perubahan menuju tipe sistem sosial, ekonomi, dan politik yang telah berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke 19 dan 20, lalu meluas ke negara-negara Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. Ada dua tipe modernisasi menurut Eisenstadt, yaitu modernisasi ekonomi dan modernisasi sosial. Modernisasi ekonomi merupakan perkembangan atau kemajuan ekonomi yang ditandai dengan tingginya tingkat konsumsi dan standar hidup, revolusi teknologi, intensitas modal yang semakin besar, serta organisasi birokrasi yang rasional. Modernisasi sosial meliputi perubahan dalam atribut-atribut sistematis, pola-pola kelembagaan dan peranan-peranan status sosial dalam struktur masyarakat yang sedang berkembang.

Pendekatan teori dependensi pertama kali muncul di Amerika Latin. Teori ini berusaha menggambarkan fenomena ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara maju, baik dalam hal faktor produksi, kerjasama ekonomi, maupun pinjaman luar negeri, ataupun dalam hal ekspor barang. Dalam hal ini, ketergantungan dianggap sebagai suatu hambatan bagi negara-negara berkembang untuk bisa bergerak lebih dan menjadi lebih maju dari kondisinya sebelumnya. Negara-negara berkembang biasanya tergantung pada negara-negara penjajahnya, yang masih memiliki warisan kolonial.

Teori sistem dunia lahir atas pemikiran seorang tokoh bernama Immanuel Wallerstein. Teori ini berasumsi bahwa dalam dunia internasional, negara-negara terbagi menjadi tiga, yaitu negarainti (core nations), negara pinggiran (periphery nations), dan negara semi-pinggiran (semi-periphery nations). Dalam hal ini Wallerstein berpendapat bahwa negara inti adalah negara-negara maju atau negara-negara industri yang menjadi kiblat bagi negara-negara di sekitarnya. Negara pinggiran adalah negara-negara berkembang yang perekonomiannya masih merangkak, dan sumber daya alamnya dieksploitasi oleh negara-negara inti. Negara semi-pinggiran berada di antara kedua negara tadi, yaitu negara yang sedang menuju ke arah kemajuan. Negara semi-pinggiran ini, pada dasarnya dieksploitasi oleh negara-negara inti, namun di sisi lain juga mengeksploitasi negara-negara pinggiran. Wallerstein menggambarkan teori iniseperti piramida, dimana negara inti berada di puncak piramida, negara semi-pinggiran berada di tengah-tengahnya, dan negara pinggiran berada di bawah atau dasar piramida. (menganai, teori ini, baca tulisan saya sebelumnya: A SHORT INTRODUCTION TO WORLD SYSTEM THEORY AND LONG CYCLE GLOBAL POLITICS THEORY)

Ketiga teori di atas sesungguhnya masih relevan dengan kondisi hubungan internasional sekarang. Arus modernisasi terlihat cukup jelas di negara-negara berkembang di dunia, mulai dari sistem baru yang dianut, hingga pola hidup masyarakatnya yang ikut berubah. Dependensi negara berkembang terhadap negara maju terlihat jelas dari kondisi ekonomi negara berkembang yang akan berjalan dengan tidak lancar ketika aktivitas ekspor barang atau aktivitas peminjaman hutang luar negeri mulai terhambat. Negara berkembang tidak bisa melaksanakan pembangunannya apabila kegiatanekonominya terhambat, namun di sisi lain, ekonomi negara maju tetap bisa berjalan walaupun tidak meminjamkan hutang kepada negara berkembang. Namun yang paling sulit adalah kegiatan ekonomi eksternal seperti ekspor barang, karena baik negara maju maupun negara berkembang tetap membutuhkan satu sama lain; negara berkembang membutuhkan pasokan barang dari negara maju, yang tidak bisa diproduksi di negaranya sendiri, dan negara maju membutuhkan pangsa pasar untuk memasarkan barangnya. Di sinilah kelemahan teori dependensi, artinya tidak selamanya teori dependensi itu berlaku.

Teori Wallerstein mengenai tiga kategori negara-negara di dunia bisa saja valid ketika negara-negara itu diukur dari kuantitas dan kualitas produksi dan industrinya, namun ada satu hal yang tidak relevan dengan fenomena hubungan internasional dan kaitannya dengan eksploitasi yang dilakukan negara inti terhadap negara pinggiran dan semi-pinggiran, bahwa kita tidak bisa memungkiri eksistensi negara-negara yang mengisolasikan diri −Korea Utara, Myanmar, Turkmenistan, Equatorial Guinea, Eritrea, Libya, Kuba, Uzbekistan, Syria, dan Belarus−, mengingat hubunga nmereka dengan negara-negara lain di dunia yang sangat minim dan sulit dijangkau oleh media manapun.

Teori baru yang muncul dari saya sendiri adalah ‘Teori Opsional (Optional Theory)’, bahwa negara di dunia (baik itu negara inti maupun negara pinggiran atau semi-pinggiran), hanya dapat berinteraksi aktif dengan negara-negara yang membuka diri dan berniat untuk berinteraksi. Negara-negara yang mengisolasi dirinya (censored countries), akan sangat sulit untuk diajak bekerjasama, karena hak untuk memilih melakukan interaksi atau menutup diri itu dimiliki oleh setiap negara,dan tidak ada kewenangan negara lain untuk melakukan intervensi dalam bentuk apapun.


xoxo


Jelaskan Apa yang Dimaksud dengan Demokrasi, Demokratisasi, dan Hak Asasi Manusia!

 

Secara sederhana, demokrasi merupakan suatu sistem yang terfokus pada masyarakat, dimana masyarakat dilibatkan dalam proses penentuan kebijakan pemerintah –termasuk proses pemilihan umum−, pemberian hak dan kebebasan dalam berbicara dan menyampaikan pendapat, hak memperoleh pendidikan, hak mendapat perlindungan dan perlakuan yang adil dalam hukum, dan sebagainya. Demokratisasi adalah proses dalam pelaksanaan demokrasi di suatu wilayah. Demokrasi melahirkan hak asasi manusia (HAM), dimana manusia diberikan hak dasar untuk bisa menentukan ‘jalan hidupnya’ tanpa ada intervensi atau campur tangan dari pihak lain. HAM dan demokrasi merupakan konsepsi kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan dari sejarah peradaban manusia di seluruh penjuru dunia. HAM dan demokrasi juga dapat dimaknai sebagai hasil perjuangan manusia untuk mempertahankan dan mencapai harkat kemanusiaannya, sebab hingga saat ini hanya konsepsi HAM dan demokrasi lah yang terbukti paling mengakui dan menjamin harkat kemanusiaan.

Dalam demokrasi, kita mengenal adanya teori-teori kontrak sosial yang merupakan usaha untuk mendobrak dasar dari pemerintah yang absolut serta usaha untuk menetapkan hak-hak politik rakyat. Perjanjian ini biasanya berisi mengenai apa sebenarnya yang menjadi tujuan bersama dari kelompok masyarakat tersebut, pembatasan hak-hak individual serta siapa yang bertanggungjawab untuk pencapaian tujuan tersebut dan menjalankan perjanjian yang telah dibuat dengan batas-batasnya. Ada beberapa hal yang dapat menjadi tolok ukur bagi perkembangan demokrasi dalam suatu negara, meskipun implementasi demokrasi tersebut sangat dinamis dan berlaku universal, yaitu: Adanya prinsip musyawarah dalam proses kehidupan politik, prinsip kesadaran terhadap adanya pluralisme dalam masyarakat, prinsip adanya kebebasan menyatakan pendapat dan penegakan HAM, prinsip kesesuaian antara cara dengan pencapaian tujuan, prinsip pemufakatan yang jujur dan transparan, prinsip pemenuhan kebutuhan ekonomi dan perencanaan sosial-budaya ,serta prinsip penerapan keadilan dalam dinamika kehidupan politik.

Hasil dari diskusi Internasional PBB pada tanggal 10 Desember 1948 menghasilkan sebuah piagam mengenai hak asasi manusia yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Setelah itu pada tahun 1966, dihasilkan 2 perjanjian yaitu Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya serta berikutnya menghasilkan Deklarasi Wina pada tahun 1993 sebagai cerminan pencapaian konsensus antara Negara-negara barat dan negara non-barat bahwa hak asasi memiliki sifat yang universal sekalipun dalam implementasinya terdapat perbedaan sesuai dengan kondisi Negara masing-masing. Pada tahun 2002 kemajuan konsep hak asasi manusia mencapai tonggak sejarah baru dengan didirikannya International Criminal Court (ICC) yang secara khusus mengadili kasus pelanggaran terhadap kemanusiaan, genosida dan kejahatan perang.

 



xoxo


Analisa Perkembangan Negara-Negara Berkembang Sekarang Ini!

 

Sesungguhnya tidak ada definisi yang jelas dari WTO mengenai negara berkembang dan negara maju. Hanya saja, negara-negara di dunia mengklaim diri mereka negara maju atau negara berkembang ketika melihat kondisi negaranya masing-masing −dan membandingkan dengan kondisi negara lain− dalam hal pendapatan per kapita, kualitas ekonomi, faktor produksi dan konsumsi, kepemilikan serta perkembangan teknologi di negaranya, serta standar hidup masyarakat di dalamnya.

Banyak sekali masalah yang terjadi di negara berkembang, mulai dari masalah politik yang pelik, masalah penerapan HAM yang seutuhnya belum terlaksana, pengangguran, masalah kesehatan, serta masalah lingkungan yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang diseluruh dunia. Sebenarnya, sangat susah untuk mencanangkan istilah negara ‘berkembang’, karena buktinya negara-negara itu tidak terlihat perkembangannya, yang ada hanya ‘diam di tempat’ atau bahkan cenderung menyusut. Hanya ada beberapa negara yang perkembangannya terlihat jelas, sebutlah China dan India.

Salah satu isu global yang paling diperdebatkan adalah isu perdagangan, karena selama 50 tahun terakhir, perekonomian masing-masing negara semakin terintegrasi dengan struktur ekonomi global yang diakselerasi dengan pemanfaatan teknologi bagi perdagangan internasional. Namun sayangnya banyak terdapat keganjilan-keganjilan dalam sistem perdagangan internasional. Perjanjian dan kerjasama internasional di bidang ekonomi, yang menjanjikan kesejahteraan ekonomi bagi negara-negara di dalamnya, terutama negara berkembang, nyatanya tidak membuahkan hasil yang maksimal. Laporan UNDP pada tahun 1999 menyatakan bahwa dalam waktu 10 tahun terjadi pemusatan kekayaan di tangan segelintir orang. Tiga orang terkaya di dunia saat ini menguasai aset yang nilainya sama dengan milik 600 juta orang di 48 negara termiskin. 1/5 penduduk di negara maju menguasai 86% produk domestik dunia, 82% pasar ekspor dunia, 68% penanaman modal langsung, dan 74% saluran telepon dunia. Sementara penduduk di negara berkembang dan negara miskin hanya menguasai 1% dari masing-masing sektor.

Indonesia adalah salah satu negara yang merasakan akibat buruk dari perdagangan internasional. Keterbukaan pasar dan upah buruh yang murah tumbuh sekitar 6 hingga 7% per tahun. Nikmatnya hidup di Indonesia kini hanya bisa dinikmati sedikit orang. Jumlah rakyat yang terkurung dalam kemiskinan semakin bertambah dan bahkan sampai pada angka mayoritas, bahkan dililit oleh hutang luar negeri. Sehingga pada akhirnya akan muncul satu pertanyaan mendasar: Sejauh mana manfaat dari perdagangan global?

Telah banyak solusi yang diberikan oleh para tokoh tentang isu-isu di negara berkembang, antara lain dengan memanfaatkan teknologi dalam negeri untuk mengolah bahan dasar yang ada, meningkatkan nilai kreativitas masyarakat untuk menciptakan dan mengembangkan pasar domestik,  atau solusi yang sifatnya lebih radikal yaitu dengan memutuskan hubungan kerja dengan negara-negara lain, dan menjadi negara mandiri, atau dengan meminta pemutihan hutang luar negeri seperti yang pernah dilakukan oleh pemerintah Kolombia.

Rasanya, sulit untuk percaya pada sousi-solusi yang ditawarkan di atas, terlebih bagi orang-orang yang percaya pada validitas teori dependensi maupun teori interdependesi. Sehingga keterpurukan negara berkembang itu tidak akan pernah hilang. Sederhananya, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.



xoxo


Jelaskan dengan Singkat, Dalam Analisa Anda, Tentang Judul yang Anda Presentasikan!


Demokrasi dan Hak Asasi Manusia di Negara Berkembang.

Krisis ekonomi di negara-negara berkembang tidak mempunyai akar masalah yang benar-benar domestik sifatnya.Kenaikan tajam harga minyak bumi untuk kedua kalinya telah menghantam negara-negara Amerika Latin dengan sangat keras. Karenanya salah satu cara untuk mengimbangi meningkatnya pengeluaran adalah dengan cara meminjam lebih banyak uang dari luar negeri. Dari sini kemudian berkembang proposisi bahwa pada tahun 1990an terjadi transisi dari demokrasi yang –menurut istilah Sorensen “terbatas”, yaitu di mana sistem politiknya memiliki elemen-elemen demokrasi namun memiliki keterbatasan pada kompetisi, partisipasi, da nkebebasan, menuju demokrasi yang lebih liberal.

Masih banyak terdapat kasuspelanggaran HAM di negara berkembang, dan yang paling sering muncul adalah kasus pelanggaran hak asasi perempuan, yang hingga sekarang terus diperjuangkan, terutama oleh kaum feminis. Di Amerika Latin, perempuan hingga saat ini masih dikekang oleh suami mereka, tidak diperbolehkan atas hak kepemilikan lahan, dan hanya bisa bekerja dalam rumah, atau menjadi pembantu rumah tangga, tukang jahit, dan pekerjaan sejenisnya. Di Afrika dan Asia, masih banyak perempuan yang menjadi korban trafficking, yang anak-anaknya diculik dan dijadikan pekerja industri bawah tanah.

Belum ada yang dapat mengatasi masalah pelanggaran HAM di negara-negara berkembang, karena demokratisasi disana hanya terfokus pada aspek ekonomi, sehingga cenderung mengesampingkan hal-hal lain yang lebih personal, seperti isu HAM.

 



xoxo


Bibliografi:

Abraham, Francis M. Modernization in the Third World. New York: University Press of America, 1980.

Bond, Patrick. Perdagangan Yang Memiskinkan. Jakarta: The Institute for Global Justice (IGJ), 2004.

Eisenstadt, S.N. Modernization: Protest or Change. Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1966.

Golthorpe, J.E. The Sociology of the Third World. Cambridge: Cambridge University Press, 1975.



(Ditulis oleh Satkar Ulama, untuk ujian final mata kuliah Pemikiran Politik Negara Berkembang)

 

Categories: Random Writings of Mine, College Stuffs, Another Pretty Thing

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

5 Comments

Reply firna niahara
10:21 PM on March 5, 2011 
terima kasih, sudah sangat membatu pengetahuan saya. jika boleh bertanya tolong menulis tetang " kenapa negara barat bisa lebih berkembang dari pada negara di asis?" maksih.
Reply Satkar Ulama
6:00 AM on March 6, 2011 
firna niahara says...
terima kasih, sudah sangat membatu pengetahuan saya. jika boleh bertanya tolong menulis tetang " kenapa negara barat bisa lebih berkembang dari pada negara di asis?" maksih.


Thanks for reading Thanks for commenting :)
Insya Allah nanti ditulis..
makasih inputnya Firna
Reply Firna Niahara
11:09 PM on November 18, 2011 
Sudah Lama Menunggu Tapi Kok Belum Ada Tulisan Lagi Mas????
Reply Satkar Ulama
11:55 PM on November 18, 2011 
Firna Niahara says...
Sudah Lama Menunggu Tapi Kok Belum Ada Tulisan Lagi Mas????


maaf mbak, utk sekarang lg keranjingan tulis2 yg galau2 hihihii
Reply afief umar
8:51 AM on December 13, 2012 
mau ka bertanya kak satky :)
jadi dampak terhadap demokratisasi di negara berkembang itu bgmn?
saya mau presentasi tapi susah cari materi eh dapat ini blog :D

Google Translator

Follow Satky on Twitter!